<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Rabbaniyyun`89</title>
	<atom:link href="http://riky8022.myblogrepublika.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://riky8022.myblogrepublika.com</link>
	<description>Just another Myblogrepublika.com Blogs weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Jun 2009 14:16:37 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on Gunakan bahasa Indonesia 100 % ya !!! by Aziz</title>
		<link>http://riky8022.myblogrepublika.com/2009/05/10/gunakan-bahasa-indonesia-100-ya/comment-page-1/#comment-3</link>
		<dc:creator>Aziz</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 14:16:37 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://riky8022.myblogrepublika.com/?p=12#comment-3</guid>
		<description>saya setuju apa yang dikatakan penulis, semoga kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya setuju apa yang dikatakan penulis, semoga kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Ayo&#8230;Jangan Golput by IDRIES ALFARISY</title>
		<link>http://riky8022.myblogrepublika.com/2009/03/18/ayojangan-golput/comment-page-1/#comment-2</link>
		<dc:creator>IDRIES ALFARISY</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 18:32:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://riky8022.myblogrepublika.com/?p=3#comment-2</guid>
		<description>KESATRIA DALAM KEPONGPONG

Salam kenal dari saya yang berada di pojok negeri aneh ini. Saya termasuk bangsa Indonesia yang ikut gemas melihat pemimpin yang ada sekarang ini. Dan semoga saja tidak terlampau pesimis dengan para calon pemimpin yang kini tengah merebut hati rakyat, walaupun nampaknya tidak kalah busuknya dengan pemimpin sebelumnya. Bayangkan, demi ambisi pribadi/golongan mereka berani jual agama. Tidak tanggung-tanggung, Tuhan dipolitisir ! Apalagi rakyat.

Melihat kandidat pemimpin yang tengah berlomba merebut kursi sekarang ini, rasanya saya ingin sekali berseru, “Cape deeeee…h !Tapi, untungnya saya tidak ikut stress. Karena diam-diam hati saya berbisik dengan mengatakan, ” Tonton saja keadaan pemimpin terpilih kelak, meskipun ternyata rakyat memilih srigala berbulu domba, koruptor berwajah manis dan nampak alim bak ahli ibadah dengan tanda hitam di jidat “. Tonton saja. Sebab, hemat saya, jika rakyat ternyata memilih pemimpin yang munafik, berarti gambaran dari hati rakyat itu sendiri yang pastinya juga munafik. Intinya, ALLAH tidak akan memberi pemimpin yang bertaqwa, jika rakyatnya sendiri tidak bertaqwa. Karena saya sangat yakin, manusia sekedar akibat, bukan penyebab. Tuhanlah Yang Maha Penyebab. Jadi, azab Tuhan tidak sebatas kejadian bencana alam. Terpilihnya pemimpin yang kejam, rakus, serakah dan lain-lain juga suatu bencana. 

Angan-angan saya akan munculnya seorang pemimpin yang ideal, yang mengikuti jejak Rasulullah sepertinya tunda dulu. Masih jauh. Tapi mereka ada. Sepertinya masih disembunyikan Tuhan di dalam kepongpongNya. 

Mereka kini masih terjaga sekali dari ruang publikasi. Bahkan jika anda suatu saat mungkin berpapasan dengannya, anda tidak akan mengenalinya. Karena terlampau biasa. Penampilannya tidak klimis kayak presenter TV, tidak bejas atau apalagi berdasi, bahkan penampilannya tidak mencirikan orang alim seperti gambaran masyarakat umum; berjenggot, pakai celana potongan menggantung, apalagi memakai jubah bak Osama Bin Laden. Gak banget ! Ia tidak mementingkan penampilan luar, apapun itu alasannya. Karena semakin bertaqwa seseorang semakin ia tidak membutuhkan pengakuan masyarakat yang gampang terkecoh dengan penampilan seseorang. 

Pemimpin yang tengah diidam-idamkan bangsa ini yang saya gambarkan itu sebenarnya merasa sepi di tengah keramaian, kecuali ia hanya merasa berdua dengan ALLAH. Ia selalu curiga dengan gerak-gerik hatinya sendiri dari sifat-sifat tercela; seperti ria, sombong, gila hormat, dsb. 

Ia merasa berusaha untuk terus menjaga hatinya untuk tetap dalam kondisi ikhlas, sebab ia memang merasa butuh terus mengabdi kepada ALLAH, bukan mengabdi demi bangsa ini, bukan pada teman, keluarganya bahkan ego-nya. Sebab, ia tahu betul, semua itu hanya mahluk. Jadi untuk apa mengabdi demi mahluk? Bukankah itu jelas-jelas suatu kemusrikan ? Ia tidak mau menduakan cintaknya kepada ALLAH. Sekecil apapun itu, dan selogis apapun argumen akal pikiran yang melegalkan kemusrikan tersebut.
Pemimpin yang hanya menaruh cintanya kepada ALLAH tentu ia akan cinta juga kepada rakyat yang dipimpinya. Tidak mungkin tidak. 

Sebaliknya, pemimpin yang cinta rakyat belum tentu cinta kepada Tuhannya. Jangankan cinta, yakin kepada ALLAH saja mungkin tidak. 
Cinta palsu seperti itu lama-lama akan terkuak juga. Rakyat akan tahu, ia cinta rakyat hanya saat kampanye saja, ia cinta sesama rekan politis saat membutuhkan dukungan politik saja, ia cinta tanah air hanya ketika ia tahu sumber daya alam bangsa ini sangat menguntungkannya, dan lain-lain.

Jangan desak saya untuk menyebutkan nama atau inisial calon pemimpin bertaqwa yang muncul di masa depan itu. Saya tidak akan sanggup menjawabnya. Saya hanya tau dari karakter dan Lembaga Pendidikan yang menggemblenggnya. Tapi apa nama Lembaganya itu pun mungkin saya tidak mau menyebutkannya. Saya hewatir anda malah dibuat bingung. Hehehehheheh………

Wassalam,
Rakyat Indonesia</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>KESATRIA DALAM KEPONGPONG</p>
<p>Salam kenal dari saya yang berada di pojok negeri aneh ini. Saya termasuk bangsa Indonesia yang ikut gemas melihat pemimpin yang ada sekarang ini. Dan semoga saja tidak terlampau pesimis dengan para calon pemimpin yang kini tengah merebut hati rakyat, walaupun nampaknya tidak kalah busuknya dengan pemimpin sebelumnya. Bayangkan, demi ambisi pribadi/golongan mereka berani jual agama. Tidak tanggung-tanggung, Tuhan dipolitisir ! Apalagi rakyat.</p>
<p>Melihat kandidat pemimpin yang tengah berlomba merebut kursi sekarang ini, rasanya saya ingin sekali berseru, “Cape deeeee…h !Tapi, untungnya saya tidak ikut stress. Karena diam-diam hati saya berbisik dengan mengatakan, ” Tonton saja keadaan pemimpin terpilih kelak, meskipun ternyata rakyat memilih srigala berbulu domba, koruptor berwajah manis dan nampak alim bak ahli ibadah dengan tanda hitam di jidat “. Tonton saja. Sebab, hemat saya, jika rakyat ternyata memilih pemimpin yang munafik, berarti gambaran dari hati rakyat itu sendiri yang pastinya juga munafik. Intinya, ALLAH tidak akan memberi pemimpin yang bertaqwa, jika rakyatnya sendiri tidak bertaqwa. Karena saya sangat yakin, manusia sekedar akibat, bukan penyebab. Tuhanlah Yang Maha Penyebab. Jadi, azab Tuhan tidak sebatas kejadian bencana alam. Terpilihnya pemimpin yang kejam, rakus, serakah dan lain-lain juga suatu bencana. </p>
<p>Angan-angan saya akan munculnya seorang pemimpin yang ideal, yang mengikuti jejak Rasulullah sepertinya tunda dulu. Masih jauh. Tapi mereka ada. Sepertinya masih disembunyikan Tuhan di dalam kepongpongNya. </p>
<p>Mereka kini masih terjaga sekali dari ruang publikasi. Bahkan jika anda suatu saat mungkin berpapasan dengannya, anda tidak akan mengenalinya. Karena terlampau biasa. Penampilannya tidak klimis kayak presenter TV, tidak bejas atau apalagi berdasi, bahkan penampilannya tidak mencirikan orang alim seperti gambaran masyarakat umum; berjenggot, pakai celana potongan menggantung, apalagi memakai jubah bak Osama Bin Laden. Gak banget ! Ia tidak mementingkan penampilan luar, apapun itu alasannya. Karena semakin bertaqwa seseorang semakin ia tidak membutuhkan pengakuan masyarakat yang gampang terkecoh dengan penampilan seseorang. </p>
<p>Pemimpin yang tengah diidam-idamkan bangsa ini yang saya gambarkan itu sebenarnya merasa sepi di tengah keramaian, kecuali ia hanya merasa berdua dengan ALLAH. Ia selalu curiga dengan gerak-gerik hatinya sendiri dari sifat-sifat tercela; seperti ria, sombong, gila hormat, dsb. </p>
<p>Ia merasa berusaha untuk terus menjaga hatinya untuk tetap dalam kondisi ikhlas, sebab ia memang merasa butuh terus mengabdi kepada ALLAH, bukan mengabdi demi bangsa ini, bukan pada teman, keluarganya bahkan ego-nya. Sebab, ia tahu betul, semua itu hanya mahluk. Jadi untuk apa mengabdi demi mahluk? Bukankah itu jelas-jelas suatu kemusrikan ? Ia tidak mau menduakan cintaknya kepada ALLAH. Sekecil apapun itu, dan selogis apapun argumen akal pikiran yang melegalkan kemusrikan tersebut.<br />
Pemimpin yang hanya menaruh cintanya kepada ALLAH tentu ia akan cinta juga kepada rakyat yang dipimpinya. Tidak mungkin tidak. </p>
<p>Sebaliknya, pemimpin yang cinta rakyat belum tentu cinta kepada Tuhannya. Jangankan cinta, yakin kepada ALLAH saja mungkin tidak.<br />
Cinta palsu seperti itu lama-lama akan terkuak juga. Rakyat akan tahu, ia cinta rakyat hanya saat kampanye saja, ia cinta sesama rekan politis saat membutuhkan dukungan politik saja, ia cinta tanah air hanya ketika ia tahu sumber daya alam bangsa ini sangat menguntungkannya, dan lain-lain.</p>
<p>Jangan desak saya untuk menyebutkan nama atau inisial calon pemimpin bertaqwa yang muncul di masa depan itu. Saya tidak akan sanggup menjawabnya. Saya hanya tau dari karakter dan Lembaga Pendidikan yang menggemblenggnya. Tapi apa nama Lembaganya itu pun mungkin saya tidak mau menyebutkannya. Saya hewatir anda malah dibuat bingung. Hehehehheheh………</p>
<p>Wassalam,<br />
Rakyat Indonesia</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Hello world! by Mr WordPress</title>
		<link>http://riky8022.myblogrepublika.com/2009/03/18/hello-world/comment-page-1/#comment-1</link>
		<dc:creator>Mr WordPress</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2009 13:53:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">#comment-1</guid>
		<description>Hi, this is a comment.&lt;br /&gt;To delete a comment, just log in, and view the posts&#039; comments, there you will have the option to edit or delete them.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Hi, this is a comment.<br />To delete a comment, just log in, and view the posts&#8217; comments, there you will have the option to edit or delete them.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
